Traveltext.id

Presiden: Pariwisata Sangat Besar Sumbang Devisa Terbanyak

Presiden: Pariwisata Sangat Besar Sumbang Devisa Terbanyak

PRESIDEN Joko Widodo menyebut peluang pariwisata sangat besar untuk digarap agar bisa menyumbangkan devisa terbanyak. Pariwisata Indonesia hanya perlu digarap agar bisa memberikan devisa yang besar.

“Peluang pariwisata sangat besar sekali, kita masuk 6 besar negara terindah di dunia kemudian kita juga masuk 10 besar negara yang wajib dikunjungi. Penghargaan-penghargaan itu menjadi brand dan modal tersendiri bagi pariwisata Indonesia,” ujarnya.

Dikatakan, ini brand yang tinggal kita garap agar pariwisata bisa memberikan devisa paling banyak, meskipun devisa pariwisata sudah mencapai US$16 miliar sudah mengalahkan kelapa sawit, mengalahkan CPO. Sekarang sudah paling tinggi.

“Saya pernah menyampaikan kepada Menteri Pariwisata (Menpar) secara khusus terkait besaran anggaran untuk promosi pariwisata. Sebenarnya butuhnya berapa sih untuk promosi. Pak Menpar minta Rp7 triliun dari sebelumnya Rp1 triliun. Tidak apa-apa sebenarnya tapi pertanyaannya produknya sudah siap belum, saya lihat destinasinya belum siap,” katanya.

Ditambahkannya, oleh karena itu, saya memerintahkan Menteri PUPR untuk konsentrasi menggarap 4 destinasi pariwisata prioritas dari 10 Bali Baru yang sedang dikembangkan dari sisi infrastruktur. Sebanyak 4 destinasi pariwisata prioritas yang dikonsentrasikan untuk dibangun infrastruktur pendukungnya lebih dulu yakni Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, dan Borobudur.

“Saya tegaskan infrastruktur dibangun besar-besaran tahun ini karena juga terkait dengan pengembangan pariwisata termasuk ketersediaan pasokan listrik. Saya juga menekankan pembangunan yang merata atau berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tidak Jawa sentris tapi Indonesia sentris,” ungkap Presdien Jokowi.

Menurut dia, hal itu harus dilakukan untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan sekadar mendapatkan return ekonomi atau politik yang besar karena jika dihitung secara politis dan ekonomi lebih menguntungkan jika membangun Pulau Jawa saja dengan penduduk 149 juta jiwa dari 260 juta penduduk di seluruh Tanah Air.

Presiden mencontohkan mendesaknya pembangunan jalan trans-Papua untuk menekan mahalnya biaya transportasi dan logistik di wilayah paling timur Indonesia itu. Selain itu, ia mencontohkan bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yakni dalam hal penerapan BBM satu harga di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Papua.

“Saya perintahkan agar menyamakan harga BBM saya beri waktu setahun tapi baru berhasil hampir 2 tahun ternyata enggak mudah, kuncinya beli pesawat khusus untuk BBM,” tuturnya. [antaranews/photo traveltext]