Traveltext.id

KEMENPAREKRAF PASTIKAN PENATAAN FASILITAS DI TN KOMODO SESUAI DENGAN OUV

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menegaskan bahwa penataan sarana dan prasarana di zona pemanfaatan Taman Nasional (TN) Komodo akan disesuaikan dengan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan, sehingga tidak menimbulkan atau mengakibatkan dampak negatif terhadap Outstanding Universal Value (OUV) situs warisan alam dunia TN Komodo.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menyebutkan bahwa tujuan dari pembangunan di TN Komodo sendiri adalah untuk mengganti sarana dan prasarana yang tidak layak dengan sarana yang lebih memadai dan berstandar internasional, mulai dari ranger camp, guide camp, researcher camp, plaza deck, resting post, elevated deck, reservoir tank, distribution pipeline, waiting room for visitor, jetty, coastal protection, hingga information center.

“Waktu saya berkunjung ke Taman Nasional Komodo itu, saya melihat memang banyak fasilitas yang perlu diperbaiki karena berkaitan dengan masalah keselamatan, berkaitan dengan kesehatan, dan juga keberlanjutan lingkungan,” kata Menparekraf.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memastikan bahwa pembangunan di Resort Loh Buaya Pulau Rinca TN Komodo tidak menimbulkan atau mengakibatkan dampak negatif terhadap OUV situs warisan alam dunia TN Komodo. Karena ini semua berdasarkan hasil kajian penyempurnaan Environmental Impact Assessment (EIA) yang dilakukan bersama oleh lintas kementerian/lembaga serta pakar lainnya yang terus disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan IUCN.

“Jadi jangan khawatir, karena kita mengutamakan keberlanjutan lingkungan dan konservasi,” ujarnya.

Selain itu, berkaitan dengan sertifikasi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE), Sandiaga mengatakan antuasiame industri untuk mendaftarkan usahanya terus meningkat. Pada pekan keempat Juli 2021, jumlah pendaftar sertifikasi CHSE sudah mencapai 4.771. Hal ini menunjukkan bahwa semua pihak sadar akan penerapan CHSE tersebut benar-benar diperhatikan di era adaptasi kebiasaan baru.

“Sertifikasi CHSE ini harus betul-betul kita dorong untuk jadi gold standard dalam pelaksanaan pelayanan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Selain itu, program vaksinasi juga terus Kemenparekraf lakukan. Sampai dengan 7 Agustus 2021 sudah ada 22 sentra vaksinasi yang diinisiasi oleh Kemenparekraf dan tentunya bekerja sama dengan dunia usaha, institusi pendidikan, serta stakeholder lainnya.

Untuk itu, Sandiaga terus mendorong agar seluruh unsur pentahelix berkolaboraksi untuk menghadirkan sentra vaksinasi, agar target yang ingin dicapai oleh Kemenparekraf sampai dengan September 2021 untuk memvaksin lebih dari 450 ribu pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dan masyarakat dapat tercapai.

“Kemenparekraf akan terus berkoordinasi dengan pemprov, pemda, pemkab, pemkot, dan juga komunitas, institusi pendidikan dan pentahelix untuk menghadirkan sentra vaksinasi di tempat wisata, seperti vaksin with a view, vanic (vaksinasi asyik di tempat piknik), sehingga dapat membangkitkan minat masyarakat untuk divaksin,” ujarnya.

Menparekraf mengatakan dukungan akomodasi hotel bagi tenaga kesehatan sebesar Rp300 miliar sudah disetujui oleh KPC PEN. Ia berharap dalam waktu dekat bisa segera direalisasikan. Di samping itu, Sandiaga terus mengupayakan agar biro perjalanan wisata sebagai salah satu pelaku parekraf yang turut berperan aktif dalam menggerakkan kepariwisataan, dapat ikut serta dalam program Bantuan Pemerintah Untuk Usaha Pariwisata (BPUP) yang dianggarkan sebesar Rp2,4 triliun.

“Kami sangat prihatin dari dana hibah pariwisata tahun lalu biro perjalanan wisata ini belum tersentuh, kita lagi coba dengan segala cara, mudah-mudahan tahun ini bisa ikut dalam program Bantuan Pemerintah Untuk Usaha Pariwisata (BPUP),” ungkapnya. [traveltext.id]